05 Juni 2009

Diklat Taekwondo Untuk Hadapi Kejurnas

Kompas - Kamis, Mei 28

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut Kejuaraan Nasional Taekwondo yang berlangsung 11-15 Agustus nanti di Jakarta, salah satunya melalui pendidikan dan pelatihan bagi pelatih, wasit, dan penguji taekwondo yang berlangsung di Gedung Mandala Bakti Wanitama Yogyakarta 26-31 Mei.

Wahyu Nugroho, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI), kepada Kompas, Rabu (27/5), mengemukakan untuk yang pertama kalinya PBTI mengadakan kejuaraan nasional yang mengetengahkan perkelahian dan jurus (poomsae). Menurut rencana, kejuaraan yang mengikutsertakan 10 kelas junior dan 8 senior nanti diikuti 800 atlet.

"Oleh karena itu, kita adakan diklat ini untuk sosialisasi kepada pelatih, bagaimana teknik-teknik yang ada. Begitu pula kepada para wasit, bagaimana cara penilaiannya. Dan tentunya, ini juga dalam rangka pembinaan prestasi," ujarnya.

Pendidikan dan pelatihan (diklat) yang disebut-sebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah taekwondo di Indonesia ini diikuti 506 peserta dari 33 provinsi. Ada sejumlah materi yang diberikan, antara lain diklat pelatih nasional dasar, pelatih nasional madya, wasit nasional poomsae 2, penyegaran wasit nasional poomsae 1, dan diklat penguji nasional.

Menurut Wahyu, yang didampingi oleh Direktur Eksekutif PBTI Brigadir Jenderal (Purn) Noor Fadjari dan Instruktur Internasional V, Yoyok Suryadi, semua materi yang diberikan mengikuti aturan terbaru dari Asosiasi Taekwondo Dunia (WTF). Sejak Juni 2009, WTF mengeluarkan peraturan terbaru mengenai taekwondo, dan ini harus segera disosialisasikan mengingat peraturan itu akan diterapkan dalam kejuaraan nasional.

Menurut Noor Fadjari, untuk mendukung sosialisasi peraturan WTF yang baru, pihaknya telah mengirim enam orang pelatih senior ke luar negeri. Masing-masing lima pemain diberangkatkan untuk mengikuti seminar di China dan seorang lainnya ke Dubai.

"Mereka memberikan semacam updating. Peraturan baru WTF sangat radikal, misalnya arena pertandingan makin mengecil. Begitu pula mengenai peraturan penilaian dan perkenaannya (sasaran) juga sangat berbeda," ujarnya.

Banyaknya peserta yang ikut dalam pelatihan juga dianggap menjadi angin segar bagi dunia taekwondo di Tanah Air. Ini menunjukkan bahwa pengurus memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pembinaan prestasi di daerah. Seperti diketahui bahwa saat ini, kekuatan atlet daerah mulai muncul, tidak hanya didominasi oleh Jawa.

Indonesia Kejar 54 Emas SEA Games

Kompas - Kamis, Juni 4

JAKARTA, Kompas.com - Indonesia berharap mendapatkan 54 medali emas, 38 perak dan tiga perunggu pada ajang SEA Games Laos yang akan berlangsung pada Desember 2009

"Proyeksi raihan 54 medali agar Indonesia menempati peringkat tiga besar," kata ketua Program Atlet Andalan Sutjipto dalam acara "Rekapitulasi Proyeksi Medali SEA Games 2009" di Hotel Century Park, Senayan, Jakarta, Rabu.

Acara tersebut dihadiri juga oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Mennegpora) Adhyaksa Dault, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI)/Komite Olahraga Internasional Rita Subowo dan Deputi V Menteri Koordinator Kesejahteraan (Menko Kesra) Rakyat Sugihartamto serta sejumlah atlet dan pelatih.

Sutjipto mengatakan proyeksi perolehan medali Indonesia pada ajang SEA Games 2009 tersebut dikalkulasikan berdasarkan hasil latihan dan beberapa ujicoba (try out) para atlet selama digembleng dalam pembinaan PAL yang digulirkan kemennegpora, KONI/KOI dan Menko Kesra.

Berdasarkan rekapitulasi PAL, proyeksi medali pada ajang kompetisi olahraga dua tahunan tersebut meliputi cabang atletik sebanyak 10 emas, 13 perak, satu perunggu disusul balap sepeda (6 emas/1 perak), angkat besi (5 emas/7 perak), pencak silat (5 emas), bulutangkis (5 emas), panahan (3 emas/4 perak), judo (3 emas/1 perak/1 perunggu), wushu (3 emas/1 perak), renang (2 emas/3 perak/1 perunggu), biliar (2 emas/2 perak), tenis (2 emas/1 perak), gulat (2 emas /1 perak), taekwondo (2 emas), menembak (1 emas/2 perak), tinju (1 emas/1 perak) dan tenis meja (1 emas/1 perak).

Guna meraih proyeksi medali emas, PAL mencanangkan Indonesia akan menurunkan 176 atlet pada 16 cabang olahraga pada SEA Games 2009 dan menargetkan menempati posisi tiga besar setelah Thailand dan Vietnam. "Lawan Indonesia yang harus dikalahkan untuk menempati tiga besar bukan Thailand atau Vietnam, tetapi Malaysia," kata Sutjipto seraya menambahkan proyeksi raihan medali emas Indonesia harus mencapai 15 persen dari 369 medali yang diperebutkan pada SEA Games 2009 di Laos.

Disinggung mengenai kekuatan Thailand dan Vietnam, Sutjipto menuturkan kedua negara tersebut memiliki kekuatan yang merata pada seluruh cabang olahraga sehingga Indonesia sedikit kesulitan untuk mengatasinya.

Sementara itu, Menpora Adhyaksa Dault mengatakan proyeksi menempati posisi tiga besar merupakan target yang realistis karena ada beberapa cabang olahraga yang menjadi andalan Indonesia untuk meraih medali emas, namun tidak dipertandingkan pada ajang kompetisi antar negara di Asia Tenggara tersebut, antara lain rowing, kano, anggar dan bowling."Realistis-lah menempati posisi tiga itu sangat sulit, tetapi Indonesia harus yakin dapat meraih target itu," kata Adhyaksa.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan Indonesia menembus posisi tiga besar pada SEA Games Laos yang digelar sekitar enam bulan mendatang. Pada SEA Games Thailand 2007, Indonesia menempati posisi empat dengan raihan 56 emas, 64 perak dan 83 perunggu.

Setelah berhasil meraih peringkat tiga, Adhyaksa menargetkan Indonesia meraih gelar juara umum pada saat menjadi tuan rumah SEA Games 2011, dengan upaya melakukan pembinaan regenerasi atlet elit melalui PAL.

Sumber: http://www.kompas.com

PENGUMUMAN

Gashuku 2009
Moners Taekwondo Jakarta Utara
dilaksanakan pada

tanggal 1-2 Juli 2009
di Cisarua, Bogor


Info lebih lanjut hubungi sekretariat

NB:
Segera daftarkan diri Anda
untuk pemesanan kaos Gashuku 2009
jumlah TERBATAS

04 Juni 2009

TaeKwonDo Special Tournament

Tanggal 23-24 Mei 2009, Moners SMPN 21 Jakarta ikut berpartisipasi dalam Taekwondo Special Tournament yang diselenggarakan oleh DECHIN Club, bertempat di Lindeteves Trade Centre lantai 2 C30 No.23, Jl. Hayam Wuruk No.127. Pada turnamen ini, team Moners SMPN 21 menurunkan 9 atlet; 2 atlet untuk Kategori Pra Junior B usia 8-9 tahun, dan 7 atlet Kategori Pra Junior D usia 12-14 tahun.

Dalam tournament ini Moners SMPN 21 meraih 4 medali perunggu, yaitu:
Kelas Bantam Putra oleh EDY PURWANTO
Kelas Middle Putra oleh M. ABDUL LATIF
Kelas Heavy Putra oleh DEDY HARYANTO dan
Kelas Light Putri oleh PUJI LESTARI

Prestasi ini jelas menurun di banding dengan tournament-tournament sebelumnya. Faktor menurunnya prestasi ini disebabkan ketidakseriusan para atlet dalam berlatih, kurangnya antusiasme dalam mengikuti even, dan yang paling penting adalah dukungan dari pihak terkait.

Namun demikian, para Sabeum tetap berusaha dengan melatih serta memberikan dorongan semangat bagi para atlet yang telah bertanding dan yang belum bertanding/mengikuti tournamen. Sabeumnim Erwin Suprayitno selaku pelatih utama menambahkan:
"yang menentukan menang atau kalahnya atlet di dalam bertanding, bukanlah para pelatih melainkan atlet itu sendiri".


Sekilas Foto Taekwondo Special Tournamen




























Manfaat Latihan Taekwondo Untuk Anak

Manfaat latihan Taekwondo untuk anak adalah sebagai berikut :
1. Percaya diri
2. Mandiri
2. Sportif
3. Berani
4. Rendah hati
5. Bergaul
6. Sehat
7. Kuat
8. Cepat
9. Lentur
10. Prestasi
11. Tidak cengeng
12. Belajar memimpin
13. Belajar berorganisasi
14. dll

Lapangan Permainan, Bermain TKD, dan Cara Bermain

1. Lapangan permainan
Lapangan bagian luar berukuran 12 x 12 meter dan didalamnya ada lagi lapangan yang berukuran 8 x 8 meter. Diantara garis kedua lapangan itu ditempatkan beberapa meja juri dan wasit pertandingan. Ditengah lapangan ada lingkaran kecil untuk tempat wasit. Sedangkan lingkaran di pojok antara 2 lapangan itu tempat juri sudut. Kemudian di tempat dewan juri di salah satu sisi dan sisi lain merupakan tempat para pelatih dan tim manager.

2. Bermain Tae Kwon Do
Dalam olahraga ini, dikenal beberapa jejang keanggotaan mulai dari tingkat 10 sampai kepada tingkat 1. Dikenal adanya tingkat 10 dengan sabuk putih, naik ke tingkat 9 sabuk kuning, naik ke tingkat 8 sabuk kuning strip, terus ke tingkat 7 sabuk hijau, ke 6 sabuk hijau strip, ke 5 sabuk biru, ke 4 sabuk biru strip, ke 3 sabuk merah, ke 2 sabuk merah strip I, sampai ke tingkat 1 dengan sabuk merah strip II. Setelah itu naik ke level Sabuk Hitam Dan I sampai Dan IX.
Untuk dapat naik tingkat dibutuhkan beberapa kelebihan artinya sudah menguasai beberapa cabang seni pukulan dan tendangan. Mengusai seni-seni tersebut harus dibuktikan dengan latihan.
Dari tingkat 10 ke 9 dibutuhkan latihan 3 bulan, untuk latihan seminggu 2 kali latihan

3. Cara bermain
Gerakkan dasar dalam olahraga ini adalah pukulan, tendangan dan tangkisan serta jurus TAE GEUK. Pemberian jurus-jurus tersebut ditetapkan menurut tingkatan masing-masing. Untuk pemegang sabuk hitam kebawah sampai sabuk putih, diberikan pelajaran dan harus menguasai jurus Tae Geuk 1 – 8.
Untuk sabuk hitam Dan I harus menguasai jurus Koryo, sabuk hitam Dan II harus menguasai jurus Keumgang, sabuk hitam Dan III harus menguasai jurus Taebaek, sabuk hitam Dan IV harus menguasai jurus Pyong Won, sabuk hitam Dan V harus menguasai jurus Sipjin, sabuk hitam Dan VI harus menguasai jurus Jitae, sabuk hitam Dan VII harus menguasai jurus Chonkwon, sabuk hitam Dan VIII harus menguasai jurus Hansso, sabuk hitam Dan IX harus menguasai jurus Ilyo.
Disamping itu para olahragawan Tae Kwon Do juga harus menguasai serangan 3 langkah dan 1 langkah menurut jenjang tingkatannya. Dalam setiap pertandingan diperlombakan penguasaan pemain terhadap jurus-jurus Tae Kwon Do. Kemudian akan diadakan pertarungan bebas sesuai tingkatan masing-masing.

Pukulan dan Tendangan

1.Pukulan
Yeop Jireugi = Pukulan Samping
Chi Jireugi = Pukulan Dari Bawah Keatas
Dolryeo Jireugi = Pukulan Mengait
Pyojeok Jireugi = Pukulan Dengan Sasaran

2.Tendangan
Ap Chagi = Tendangan Kedepan
Dollyo Chagi = Tendangan Melingkar Depan
Yeop Chagi = Tendangan Samping
Dwi Chagi = Tendangan Kebelakang
Twieo Chagi = Tendangan kebelakang Yang Dilakukan Sambil Melompat

Terminologi Tae Kwon Do

1. Sabeum = Instruktur
2. Sabeum Nim = Instruktur Kepala
3. Seonbae = Senior
4. Hubae = Junior
5. Tae Kwon Do Junshin = Prinsip Ajaran Tae Kwon Do
6. Muknyeom = Meditasi
7. Dobok = Seragam Tae Kwon Do
8. Ti = Sabuk Latihan
9. Oen = Kiri
10. Oreon = Kanan
11. Joonbi = Siap
12. Sijak = Mulai
13. Kalryeo = Stop
14. Keysok = Lanjutkan
15. Keuman = Selesai
16. A Nee = Tidak
17. Yee = Ya
18. Eolgol = Sasaran atas
19. Moumtong = Sasaran tengah
20. Arae = Sasaran bawah
21. Do Jang = Tempat latihan

Filosofi Sabuk pada Tae Kwon Do

Putih melambangkan kesucian,awal/dasar dari semua warna,permulaan.

Kuning melambangkan bumi,disinilah mulai ditanamkan dasar-dasar TKD dengan kuat.

Hijau melambangkan hijaunya pepohonan,pada saat inilah dasar TKD mulai ditumbuhkembangkan.

Biru melambangkan birunya langit yang menyelimuti bumi dan seisinya,memberi arti bahwa kita harus mulai mengetahui apa yang telah kita pelajari.

Merah melambangkan matahari artinya bahwa kita mulai menjadi pedoman bagi orang lain dan mengingatkan harus dapat mengontrol setiap sikap dan tindakan kita.

Hitam melambangkan akhir,kedalaman,kematangan dalam berlatih dan penguasaan diri kita dari takut dan kegelapan.

Perubahan warna sabuk,harus memperlihatkan perubahan menyeluruh sikap hidup kita.

Tiga Materi Dalam Berlatih

1. Poomse atau rangkaian jurus adalah rangkaian teknik gerakan dasar serangan dan pertahanan diri, yang dilakukan melawan lawan yang imajiner, dengan mengikuti diagram tertentu. Setiap diagram rangkaian gerakan poomse didasari oleh filosofi timur yang menggambarkan semangat dan cara pandang bangsa Korea.

2. Kyukpa atau teknik pemecahan benda keras adalah latihan teknik dengan memakai sasaran/obyek benda mati, untuk mengukur kemampuan dan ketepatan tekniknya. Obyek sasaran yang biasanya dipakai antara lain papan kayu, batu bata, genting, dan lain-lain. Teknik tersebut dilakukan dengan tendangan, pukulan, sabetan, bahkan tusukan jari tangan.

3. Kyoruki atau pertarungan adalah latihan yang mengaplikasikan teknik gerakan dasar atau poomse, dimana dua orang yang bertarung saling mempraktekkan teknik serangan dan teknik pertahanan diri.

Sejarah Taekwon-Do

1. Taekwondo (diketik dari Buku Pintar Olahraga & Wikipedia)

Taekwondo (juga dieja Tae Kwon Do, Taekwon-Do, atau Taegwondo) adalah olah raga bela diri Korea yang paling populer dan juga merupakan olah raga nasional Korea. Ini adalah seni bela diri yang paling banyak dimainkan di dunia dan juga dipertandingkan di Olimpiade.

Dalam bahasa Korea, hanja untuk Tae berarti "menendang atau menghancurkan dengan kaki"; Kwon berarti "tinju"; dan Do berarti "jalan" atau "seni". Jadi, Taekwondo dapat diterjemahkan dengan bebas sebagai "seni tangan dan kaki" atau "jalan" atau "cara kaki dan kepalan". Popularitas taekwondo telah menyebabkan seni ini berkembang dalam berbagai bentuk. Seperti banyak seni bela diri lainnya, taekwondo adalah gabungan dari teknik perkelahian, bela diri, olah raga, olah tubuh, hiburan, dan filsafat.

Meskipun ada banyak perbedaan doktriner dan teknik di antara berbagai organisasi taekwondo, seni ini pada umumnya menekankan tendangan yang dilakukan dari suatu sikap bergerak, dengan menggunakan daya jangkau dan kekuatan kaki yang lebih besar untuk melumpuhlan lawan dari kejauhan. Dalam suatu pertandingan, tendangan berputar, 45 derajat, depan, kapak dan samping adalah yang paling banyak dipergunakan; tendangan yang dilakukan mencakup tendangan melompat, berputar, skip dan menjatuhkan, seringkali dalam bentuk kombinasi beberapa tendangan. Latihan taekwondo juga mencakup suatu sistem yang menyeluruh dari pukulan dan pertahanan dengan tangan, tetapi pada umumnya tidak menekankan grappling (pergulatan).

Taekwondo adalah olahraga rakyat yang berkembang di Korea. Menurut bahasanya Tae berarti kaki, kwon berarti tangan, Do artinya seni. Karena itu Tae Kwon Do disebut seni tendangan dan pukulan. Yaitu olahraga yang mengutamakan penggunaan kaki yang selalu siap menendang ke arah lawan dengan segala tehnik tendangan.

Sedangkan tangan, selalu siap untuk menangkis serangan dengan segala tehnik menangkis. Tetapi juga siap untuk menyerang jika diperlukan.


2. Sejarah
Tidak diketahui secara pasti sejak kapan olahraga ini mulai lahir di Korea. Tetapi diakui olahraga ini sudah berakar sejak zaman nenek moyang mereka. Selain di Korea Tae Kwon Do juga ditemukan di Kanada dan juga telah berkembang sejak dulu. Kedua aliran negara tersebut masing-masing berkembang keberbagai penjuru dunia termasuk Indonesia. Menurut catatan Tae Kwon Do masuk ke Indonesia tahun 1972 melalui Medan dari Kanada oleh Mr. Choi Il Sun yang memiliki dan VI.
Sementara itu, tahun itu pula berkembang Tae Kwon Do cara Korea oleh seorang atlet berpengalaman. Bahkan ia telah mendirikan Perguruan Tae Kwon Do yang pertama di Indonesia yaitu di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Dalam perkembangan organisasi ini di Indonesia, karena penggemar olahraga ini masih terbatas, maka digabungkan ke dalam olahraga Karate, seingga dikenal adanya aliran Kataido atau Karate Tae Kwon Do namun oleh Mr. Kim Ki Ha ketua masyarakat Korea Selatan di Jakarta, ia meminta agar unsur karate dalam Kataido dihapuskan, maka lahirlah Tae Kwon Do murni. Lalu muncul Institut Tae Kwon Do Indonesia (Intido).

Atas prakarsa Leo Lopulisa dan Sugiri, kedua aliran Tae Kwon Do akhirnya bisa disatukan dan berdiri sejak 1 Maret 1981 Pengurus Besar Tae Kwon Do Indonesia dengan ketua Leo Lopulisa.